Sabtu, 17 Oktober 2009

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Bagi industri-industri besar, seperti industri pulp dan kertas, teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai, namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar teknologi pengolahan limbah cair
Asal pencemaran air terdiri dari 3 yaitu :
 LANGSUNG (point source)‏ contohnya:
Rumah tangga: Septic tanks, Grey water.
Pertanian: Kotoran peternakan
Perkotaan: Timbunan pembuangan sampah, timbunan endapan IPAL, tempat pemakaman umum, timbunan bahan pengerasan jalan.
Industri: Kebocoran tangki dan pipa minyak, kebocoran dan tumpahan bahan kimia bahan baku industri, sumur injeksi limbah industri, bahan pengawet, “tailing” di industri pertambangan, debu terbang dari instalasi pembangkit tenaga, buangan lumpur minyak di industri pengilangan minyak, dan sisa pencucian alat industri
 TIDAK LANGSUNG (non-point source)‏ contohnya :
Pupuk dari lahan pertanian
Pestisida dari lahan pertanian dan hutan
Jatuhan bahan kimia terlarut/tersuspensi melalui hujan
 PENCEMARAN LEWAT UDARA
Aktifitas manusia menghasilkan senyawa-senyawa kimia yang dilepaskan ke udara.
Senyawa-senyawa kimia tersebut menyebar melalui aliran udara melewati batas-batas wilayah pemerintahan sehingga disebut long-range transboundary air pollution (LRTAP).
Senyawa-senyawa tersebut memasuki lingkungan air melalui pengendapan basah maupun kering.
Hujan asam, merupakan fenomena LRTAP yang sering dipublikasikan, berasal dari gas buang mesin berbahan bakar batu bara dan minyak, industri peleburan logam, industri pengilangan minyak, dan industri pulp dan kertas. Gas SO2 dan NO2 diubah menjadi H2SO4 dan HNO3 di udara setelah bereaksi dengan air.
Di Kanada bagian timur, hujan asam diperhitungkan berasal dari Amerika Serikat. Sedangkan hujan asam di bagian timur laut Amerika serikat diperkirakan berasal dari Kanada.
Hujan asam mengancam lingkungan yang tidak tahan asam. Berbagai jenis ikan, serangga, tanaman air, dan mikroorganisme mengalami gangguan reproduksi dan kematian. Penurunan populasi organisme ini dapat mempengaruhi jaringan makanan.
Ada beberapa senyawa beracun dalam air yang dapat membahayakan dan mencemarkan air tubuh yaitu:
1. Arsenic
2. Lead
3. Mercury
4. Vinyl chloride
5. Polychloriated biphenyls
6. Benzene
7. Cadmium
8. Polycyclic aromatic hydrocarbons
9. Benzo(a)pyrene
10. Benzo(b)fluoranthene
11. Chloroform
12. Ddt, p,p'-
13. Aroclor 1254
14. Aroclor 1260
15. Dibenzo(a,h)anthracene
16. Trichloroethylene
17. Chromium, hexavalent
18. Dieldrin
19. Phosphorus, white
20. Chlordane
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan. Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan yaitu:
• Pengolahan secara fisik
• Pengolahan secara kima
• Pengolahan secara bilologi

Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
1. Pengolahan secara fisik
Digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).
Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membrane yang diperlukan dalam proses osmosa.
Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut.Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.
2. Pengolahan secara kima
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.
Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5). Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2), kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida.Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia.
3. Pengolahan secara bilologi
Limbah cair banyak dihasilkan oleh industri dan rumah tangga. Limbah cair sering mengandung:
 Bahan organik tersuspensi (tinggi)
 Bakteri (coliforms dan pathogen)‏
 Pencemar kimia, pestisida dan logam berat
Beberapa perlakuan dibutuhkan untuk memenuhi baku mutu:
 Perlakuan primer
 Penghilangan fisik bahan tersuspensi. Pemisahan fisik bahan organik tersuspensi dalam bak pengendapan untuk mengurangi kebutuhan oksigen biologis (BOD).
 Perlakuan sekunder
 Degradasi oleh mikroba untuk menghilangkan senyawa organik terlarut. Degradasi oleh mikroba untuk mengurangi kandungan senyawa organik. Dua cara yaitu:
 Degradasi anaerobik dalam sludge tank / activated sludge tank
 Degradasi aerobik menggunakan trickling bed filter.

 Perlakuan tersier
 Pemisahan bahan terendapkan.
Untuk menghilangkan sisa senyawa organik dan mineral (biasanya berbiaya tinggi dan tidak selalu dibutuhkan).
o Fosfat dapat diendapkan dengan flokulasi menggunakan garam yang mengandung aluminium, besi atau kalsium.
o Mikroba pathogen dapat dihilangkan dengan khlorinasi atau penyinaran UV.
o Arang aktif dapat digunakan untuk menghilangkan senyawa oganik rekalsitran.














TUGAS SANITASI
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR




Oleh:
Intan Mansyur
07730001



TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar